FH Unhas Hadirkan Profesor Asal Jerman Bahas AI dan Privasi
17 Oktober 2026 · 5 menit baca · Ditulis oleh Tim Freddie Kashawan

Bagikan artikel ini
Apa yang dibahas dalam kuliah umum FH Unhas
FH Unhas hadirkan profesor asal Jerman bahas AI, privasi, serta tanggung jawab pengguna di ruang digital. Penggunaan AI sering dimulai dari hal sederhana: meminta ringkasan, membuat draf, atau mencari ide. Namun, setiap penggunaan memunculkan pertanyaan penting: data apa yang dimasukkan, seberapa jauh hasilnya dapat dipercaya, serta siapa bertanggung jawab bila keluaran AI merugikan orang lain.
Kuliah umum Visitasi Dosen Luar Negeri diselenggarakan FH Unhas di Ruang Moot Court Harifin A. Tumpa serta Video Conference, Kampus Tamalanrea, Makassar, 12–13 Oktober 2026. Kabarika melaporkan narasumbernya ialah Prof. Stefan Koos dari Universität der Bundeswehr München serta Prof. Dr. Michael Bohne dari Fachhochschule Dortmund, Jerman.
Menurut Kabarika dan BugisPos, pembahasan mencakup kecerdasan buatan, perlindungan data pribadi, hak cipta, hukum perdata internasional, serta tanggung jawab pengguna di ruang digital. Fokusnya bukan menolak AI, melainkan menempatkan teknologi itu dalam batas penggunaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Prof. Stefan Koos, Adjunct Professor FH Unhas menurut Kabarika, mengajak peserta mengkaji risiko AI secara kritis dan seimbang. Dua sikap ekstrem sama-sama tidak membantu: memakai AI tanpa memeriksa risiko, atau menolaknya hanya karena khawatir pada perubahan teknologi.
Risiko AI bukan hanya soal jawaban yang keliru
BugisPos melaporkan Prof. Koos menyoroti ketergantungan pada AI sebagai salah satu risiko. Ketergantungan muncul saat pengguna berhenti memeriksa alasan, sumber, serta batas jawaban AI. Masalahnya bukan hanya keluaran salah. Kemampuan pengguna menganalisis persoalan secara mandiri juga dapat melemah bila AI selalu menggantikan penilaian.
Di lingkungan pendidikan, mahasiswa dapat memakai AI untuk menyusun pertanyaan riset atau membuat kerangka awal tulisan. Namun, kerangka tersebut belum membuktikan argumennya tepat. Pengguna tetap perlu membaca sumber, membandingkan pandangan, lalu menyusun posisi sendiri. AI membantu pekerjaan awal, bukan mengambil alih tanggung jawab akademik.
Hal serupa berlaku dalam pekerjaan profesional. Bayangkan staf menerima draf jawaban AI untuk keluhan pelanggan. Pemeriksaan tidak cukup berhenti pada bahasa yang sopan. Staf perlu memastikan jawaban sesuai kebijakan organisasi, tidak memuat janji keliru, serta tidak membuka informasi pelanggan lain. Peninjauan manusia menjadi bagian proses kerja.
Homo Digitalis dan tanggung jawab atas jejak data
Kabarika menyebut Prof. Koos menggagas konsep Homo Digitalis: manusia yang melek dunia maya dan akuntabel atas tindakannya. Konsep ini relevan bagi pengguna AI, aplikasi percakapan, penyimpanan dokumen, maupun layanan digital lain yang menerima masukan pengguna.
Kesadaran digital tidak menuntut setiap orang memahami seluruh sistem teknis di balik aplikasi. Langkah dasarnya lebih praktis: mengenali informasi yang akan dibagikan, mengetahui pihak yang dapat mengaksesnya, serta mempertimbangkan dampak bila data tersebar atau digunakan di luar tujuan awal.
Prof. Koos menyatakan tidak ada jaminan keamanan data 100% di ruang digital, seperti dikutip Kabarika dan BugisPos. Kepatuhan regulasi atau fitur keamanan tidak otomatis menghapus kewajiban pengguna. Organisasi tetap perlu menentukan data yang boleh diproses dengan AI dan data yang harus dikeluarkan dari workflow.
Bayangkan unit layanan kampus memakai AI untuk mengelompokkan pertanyaan mahasiswa berdasarkan topik. Alurnya dapat berupa pesan masuk, penghapusan identitas yang tidak diperlukan, klasifikasi topik oleh AI, lalu penugasan kepada petugas terkait. Pesan berisi dokumen pribadi, nomor identitas, atau persoalan sensitif tidak semestinya langsung diproses otomatis. Pesan tersebut perlu dialihkan kepada petugas manusia sesuai aturan akses institusi.
Data pribadi, hak cipta, dan keputusan yang perlu ditinjau manusia
Diskusi FH Unhas menghubungkan AI dengan perlindungan data pribadi dan hak cipta. Kegiatan menurut Kabarika berfokus pada perlindungan data pribadi serta kepemilikan karya berbantuan AI. Penggunaan AI tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan teks atau gambar.
Sebelum memasukkan bahan kerja ke layanan AI, pengguna dapat melakukan pemeriksaan singkat:
- Apakah data tersebut benar-benar diperlukan?
- Apakah data memuat informasi internal atau pribadi?
- Siapa yang berwenang menyetujui penggunaannya?
- Apakah hasil AI akan dipakai untuk keputusan yang berdampak pada orang lain?
Pemeriksaan ini membedakan tugas berisiko rendah dan tinggi. Meminta AI membuat daftar topik umum dari informasi publik berbeda dengan mengunggah kontrak, keluhan pelanggan, atau dokumen akademik yang belum dipublikasikan. Pada situasi kedua, organisasi perlu membatasi akses, menetapkan penanggung jawab, serta menyediakan jalur eskalasi bila hasil AI bermasalah.
Menurut BugisPos, materi Data Protection in the European Practice mengulas perlindungan data menurut hukum Eropa. Materi tersebut juga mengangkat kebutuhan menyeimbangkan regulasi dan inovasi AI, dengan pendekatan Uni Eropa serta Tiongkok sebagai bahan perbandingan. Perspektif ini menunjukkan inovasi dan perlindungan masyarakat tidak harus diposisikan sebagai pilihan yang saling meniadakan.
Audit satu workflow sebelum memperluas penggunaan AI
Nilai praktis diskusi ini: mulai dari proses, bukan alat. Pilih satu penggunaan AI yang sudah atau akan diterapkan, misalnya penyusunan respons awal layanan pelanggan, peringkasan rapat internal, atau klasifikasi pertanyaan masuk.
Catat alur dari awal hingga akhir: data masuk, pihak yang mengakses, tindakan AI, keputusan manusia, serta penyimpanan hasil. Tandai data publik, internal, dan sensitif. Setelah itu, tetapkan tindakan yang boleh otomatis, tindakan yang wajib disetujui manusia, serta pihak yang bertanggung jawab bila terjadi kesalahan.
Lakukan uji terbatas saat proses masih mudah diawasi. Simpan contoh keluaran keliru, perbaiki aturan penggunaan, lalu nilai kelayakan workflow untuk diteruskan. Batas penggunaan yang jelas, pemeriksaan manusia, serta pengelolaan data sejak awal menjadi inti pemanfaatan AI yang bertanggung jawab.
Pertanyaan umum
Siapa profesor dari Jerman yang hadir di FH Unhas?
Menurut Kabarika dan BugisPos, narasumbernya adalah Prof. Stefan Koos dari Universität der Bundeswehr München serta Prof. Dr. Michael Bohne dari Fachhochschule Dortmund. Keduanya hadir dalam kuliah umum Fakultas Hukum Unhas.
Kapan dan di mana kuliah umum AI di FH Unhas berlangsung?
Menurut Kabarika, kegiatan berlangsung pada 12–13 Oktober 2026 di Ruang Moot Court Harifin A. Tumpa dan Ruang Video Conference Fakultas Hukum Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar.
Apa yang dimaksud Homo Digitalis?
Menurut Kabarika dan BugisPos, Homo Digitalis adalah individu yang sadar atas kehidupan digitalnya serta bertanggung jawab atas aktivitas yang dilakukan di dalamnya. Konsep ini mencakup kesadaran atas risiko ketika membagikan data atau menggunakan layanan digital.
Mengapa ketergantungan pada AI menjadi perhatian?
BugisPos melaporkan Prof. Koos menilai ketergantungan pada AI dapat mengurangi kemampuan seseorang menganalisis persoalan secara mandiri. AI sebaiknya dipakai sebagai bantuan, sementara pemeriksaan fakta dan penilaian tetap dilakukan pengguna.
Apa langkah awal sebelum memakai AI untuk pekerjaan?
Mulailah dengan memetakan satu workflow dan jenis data yang masuk ke dalamnya. Pisahkan data publik, internal, dan sensitif, lalu tentukan tindakan yang dapat berjalan otomatis serta keputusan yang wajib ditinjau manusia.
Referensi
- Dua Profesor Hukum Asal Jerman Bahas Tuntas Masalah AI, Privasi, dan Hak Cipta pada Kuliah Umum Fakultas Hukum Unhas · Kabarika
- FH Unhas Hadirkan Profesor Asal Jerman Bahas AI, Privasi, dan Hak Cipta · BugisPos
- FH Unhas Hadirkan Dua Profesor dari Jerman Bahas Tantangan Hukum AI dan Perlindungan Data Pribadi · MataKita
- #AI
- #privasi data
- #hukum AI
Ingin menerapkan strategi ini di bisnis Anda? Lihat layanan Consulting →
Artikel Terkait

Geely Gandeng Google Bawa Gemini ke Mobil Global pada 2027
Geely gandeng Google membawa Gemini, Maps, dan Play ke mobil global mulai paruh kedua 2027, sambil menyoroti privasi dan perhatian pengemudi.
Read More →
Meta Rilis Muse Spark Open untuk Tugas AI Lokal dan Fungsinya
Meta merilis Muse Spark Open untuk dijalankan secara lokal di Mac. Simak fungsi, kebutuhan perangkat, batasan, dan cara mengevaluasi kelayakan workflow.
Read More →
Google Cabut Akses Gemini Pro dari Pelanggan AI Plus Mulai November
Google dilaporkan membatasi pilihan model Pro bagi pelanggan Google AI Plus mulai 13 November 2026. Berikut dampak, batas informasi, dan langkah evaluasinya.
Read More →